Memperoleh Kepercayaan Yang Lebih Besar Melalui Pengembangan Kapasitas Diri

Memperoleh Kepercayaan Yang Lebih Besar Melalui Pengembangan Kapasitas Diri 


"Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. ” Mat 25:20-21



Banyak dari kita yang sudah mengetahui kisah mengenai perumpamaan talenta ini. Ada 3 orang hamba yang dipercayakan harta oleh tuannya. Hamba pertama diberi 5 talenta, yang kedua diberi 2 talenta dan yang ketiga diberi 1 talenta, sesuai dengan kesanggupan/kemampuan mereka masing-masing (Mat 25:15). Ketika hamba pertama dan kedua mengelola dan mengembangkan talenta yang dipercayakan kepada mereka, mereka memperoleh keuntungan darinya. Sehingga ketika tuannya datang menanyakan hasilnya, mereka bisa mempertanggungjawabkannya dan mereka memperoleh kepercayaan yang lebih besar.


Tidak demikian dengan hamba yang ketiga, dia tidak mampu mengembangkan talenta yang dipercayakan kepadanya, walaupun itu dalam jumlah yang kecil. Sehingga ketika tuannya datang, apa yang dimiliki oleh hamba itu malah diambil darinya.

Kapasitas atau kemampuan seseorang akan sangat berpengaruh kepada apa yang akan dipercayakan kepadanya. Sebagai contoh sederhana, tidak mungkin seorang anak SD diberi kepercayaan untuk mengendarai sebuah mobil. Anak tersebut harus mempunyai umur yang cukup dan mengikuti ujian mengemudi terlebih dahulu agar bisa dipercaya untuk mengendarai sebuah mobil. Dan tentunya itu semua membutuhkan proses dan waktu. Hal ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan umat percaya, baik dalam keluarga, studi, pekerjaan, keuangan, karir, bisnis, pelayanan dan lainnya.

Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan agar bisa mengembangkan kapasitas diri hingga memperoleh kepercayaan yang lebih besar lagi?

1. Bertindak Dengan Iman

“Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.” Mat 25:16-17

Langkah iman sangat diperlukan agar kapasitas diri kita bisa berkembang. Hanya dengan bertindak maka kita bisa mempelajari sesuatu yang baru. Ketakutan akan kegagalan merupakan cara iblis untuk menghalangi diri kita untuk menuju kepada keberhasilan. Sama dengan hamba yang ketiga yang hanya menyembunyikan talentanya dan menganggap tuannya jahat. Pikiran negatif tidak akan membantu kita untuk dapat mulai bertindak melakukan pekerjaan kita.


Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan (Ibr 11:1), dan tentunya kita mengharapkan hal yang positif terjadi dalam kehidupan kita. Bertindak dengan iman adalah melangkah maju dengan pikiran positif, yakin bahwa Tuhan pasti menyertai langkah kita. Singkirkan segala pikiran negatif, ketakutan, kekuatiran dan segalanya yang menjadi penyebab kita tidak bisa melangkah.

2. Setia Dalam Perkara Kecil

“…engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar…” Mat 25:21

Setiap hal yang besar akan datang dari hal yang kecil. Ketika kita setia dalam perkara yang kecil, yang mungkin tidak berarti di mata manusia, maka kita sedang memperkuat kapasitas diri kita untuk dapat dipercaya mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar lagi. 

Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatunya bagi kita. Yang jadi masalah adalah: apakah kita cukup setia dengan apa yang saat ini Tuhan percayakan kepada kita? Jangan anggap remeh dengan apa yang kita jalani saat ini. Jangan mengeluh atas apa yang terjadi kepada kita saat ini. Tetapi bersyukur dan jalanilah apa yang kita punya saat ini. Tuhan akan memberikan hal yang lebih besar lagi ketika Dia melihat bahwa kita benar-benar setia mengerjakan apa yang kita miliki saat ini. Segala sesuatu yang kita kerjakan berulang-ulang akan membuat diri kita mahir di dalamnya. Dan ketika kita mahir dalam perkara kecil, maka di saat itulah kita siap untuk perkara yang lebih besar lagi.

3. Tunggu Waktu Tuhan

“Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” Mat 25:19

Dari ayat di atas diceritakan tentang kedatangan sang tuan pemilik harta, untuk mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Si tuan datang untuk meminta pertanggungjawaban dari harta yang dipercayakan kepada hamba-hambanya. Dan upah, yaitu kepercayaan yang lebih besar lagi, diberikan oleh sang tuan kepada hamba yang mengerjakan tugasnya dengan setia.

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pkh 3:1

Pada waktunya Tuhan akan melihat apakah kita cukup setia melakukan apa yang telah dipercayakan kepada kita saat ini. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya Tuhan. Tetapi ketika waktu Tuhan terjadi dalam hidup kita, maka Dia akan memberikan kepercayaan yang lebih besar lagi bagi kita.

Nantikan uluran tangan Tuhan. Jangan menyerah dengan keadaan kita saat ini karena Tuhan sedang melihat apakah kita cukup sabar menanti waktuNya. Kesabaran akan membuat kapasitas diri kita meningkat. 

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Ams 16:32

Promosi bukanlah hasil kerja keras kita semata, tetapi datang dari Tuhan. Ketika Dia melihat bahwa kita cukup dipercaya, maka kita akan diberikan tanggung jawab yang lebih besar lagi. Tidak akan ada yang dapat menghalangi ketika waktu Tuhan datang bagi kita.

Bertindaklah dengan iman, setia dalam perkara kecil dan tunggu waktunya Tuhan, maka kita sedang mengembangkan kapasitas diri kita untuk menerima kepercayaan yang lebih besar lagi dari Tuhan.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Luk 16:10

Tips Hidup Di Atas Level Rata-Rata

Tips Hidup Di Atas Level Rata-Rata

Entering the next level, bukan berarti beranjak dari level pribadi diri anda sendiri, juga beranjak dari level komparatif terhadap crowd atau kerumunan orang. Ini berarti anda harus menjadi pribadi yang memiliki keunggulan kompratif, one step ahead, selangkah lebih maju, satu level di atas rata-rata. Sebab, dalam kehidupan yang bagaimanakah sebuah arena pertandingan ini, bila anda hanya hidup di level rata-rata, maka anda seperti sedang berjalan di tempat dan tidak lama lagi anda akan tertinggal di belakang.
Bila anda ingin menjadi pribadi unggulan, alias hidup diatas level rata-rata. sehingga hidup anda lebih berarti dan berdampak lebih lagi, ikutilah tips berikut ini :

  1. Sadarilah bahwa anda memiliki POTENSI
  2. EVALUASILAH keadaan anda sekarang
  3. Sikapilah situasi sebagai PELUANG
  4. Kembangkan DIFERENSIASI
  5. Lakukanlah langkah EXTRA MILE


Rahasia Tetap Kuat Dalam Kondisi Yang Berat

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40:5

Menaruh kepercayaan kepada Tuhan merupakan suatu hal yang mudah dilakukan ketika kita berada dalam keadaan baik-baik saja, hampir semua kebutuhan tercukupi, dan apapun yang kita inginkan dapat dicapai dengan mudah. Tetapi berbeda halnya jika kita sedang berada dalam kesulitan. Bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk dapat lagi berharap sepenuhnya kepada Tuhan ketika dia melihat bahwa masalah yang dihadapinya sudah sangatlah berat dan sulit diatasi.

Keadaan ekonomi yang tidak kunjung baik, kondisi pekerjaan yang ada tidak seperti yang diharapkan, bisnis tidak berjalan baik, bahkan menuju kebangkrutan, keluarga sudah tidak harmonis, anak memberontak dan bermasalah, jodoh tidak kunjung datang, hutang menumpuk dan masih ada segudang masalah yang dapat membuat umat Tuhan menjadi setengah percaya kepada Tuhan.

Apa yang harus dilakukan umat Tuhan pada kondisi yang berat seperti ini? Berikut rahasianya untuk tetap kuat di dalam kondisi yang berat:

Tetap Percaya
Tetaplah berharap kepada Tuhan. Jangan tergoda dengan berbagai jalan pintas yang ditawarkan oleh dunia ini, yang justru akan menarik kita semakin jauh dari Tuhan. Ketika kita berada di luar lingkaran perlindungan Tuhan, maka segala berkat-berkatNya juga akan tertahan bagi kita. Oleh karena itu tetap berlindung dan percaya kepada Tuhan, agar kita dapat tetap menerima berkat yang telah Tuhan sediakan bagi kita.Dunia boleh berkata bahwa sudah tidak mungkin lagi ada jalan keluar bagi masalah kita. Tetapi Firman Tuhan berkata bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Dia (Lukas 1:37, Markus 9:23. Tetaplah percaya, karena mujizat masih ada!  
Tetap Lakukan Yang Terbaik
Seringkali umat Tuhan menyerah di saat-saat yang justru menuntut kita untuk dapat melakukan yang terbaik. Ada waktu dimana Tuhan ingin melihat ketekunan kita. Ketika kita tetap melakukan yang terbaik justru di saat kita dalam kondisi tertekan, kita akan melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita. Dia akan memberi kita kekuatan baru, Dia akan menyertai langkah kita dan Dia akan memberi kemenangan bagi kita. Jangan menyerah di saat kita harus tetap berjuang. Ingat kisah bangsa Israel yang akan masuk ke Tanah Perjanjian? Mereka melihat bahwa bangsa yang menduduki tanah tersebut memiliki perawakan yang besar-besar seperti raksasa. Mereka merasa kecil bagaikan seekor belalang (Bilangan 13:33). Bangsa Israel yang ketakutan melihat musuhnya dan berkata tidak mungkin mereka dapat memasuki tanah tersebut, sama sekali tidak pernah masuk ke Tanah Perjanjian. Kaleb dan Josua yang tetap percaya bahwa mereka dapat memasuki dan merebut Tanah Perjanjian tersebut. Mereka tidak menyerah di saat segala sesuatu menjadi tidak mungkin. Dan Tuhan benar-benar memberikan hadiah atas kegigihan mereka. Dari angkatan mereka, hanya mereka berdua yang memasuki Tanah Perjanjian. Apapun yang menjadi masalah dan kesulitan yang kita alami saat ini, jangan pernah takut dan jangan pernah membuat kita mundur. Tetap lakukan apa yang terbaik. Jika kita bekerja, tetap lakukan pekerjaan kita sesulit apapun. Jika kita berbisnis dan sedang menuju kebangkrutan, tetap jalankan bisnis kita dengan meminta hikmat dari Tuhan. Jika kita mempunyai banyak hutang, tetap lakukan apa yang dapat membuat kita mempunyai penghasilan dan bahkan mendapatkan penghasilan tambahan. Tetap percaya kepada Tuhan, dan tetap lakukan yang terbaik, maka Dia akan menuntun jalan kita dan membawa kita kepada kemenangan. Haleluya! 
“Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.” Mazmur 40:2-4.
Sumber : Pelita Hidup 

Tampil Beda


Tampil Beda

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang. supaya mereka melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapamu di Sorga. Matius 5:16

Mengapa Jokowi, sosok sederhana dari kota kecil bisa memimpin Jakarta? Salah satu kunci suksesnya adalah karena Jokowi tampil beda dibanding pejabat-pejabat lainnya. Sementara kebanyakan pejabat tinggi bersifat arogan, Jokowi tampil down to erath. Sementara kebanyakan pemimpin susah didekati, Jokowi justru blusukan dan langsung turun kebawah. Sementara stereotip pemimpin daerah suka memanpaatkan kedudukan dan jabatan, Jokowi memilih fasilitas sederhana, seperti tetap menggunakan mobil dinas tahun 2002 saat menjabat walikota Solo, memilih naik pesawat kelas ekonomi, tak ada voojrider yang mengawal mobil dinasnya. Dan yang mencengangkan lagi, selama menjabat walikota Solo, beliau tidak pernah mengambil gajinya.

Sudah terlalu sering dengar jurus sukses "Dare to be different". Mengapa kita harus tampil beda? Manusia pada dasarnya sudah jenuh dengan yang itu-itu saja. Sudah bosan dengan yang begitu-begitu saja. Jadi, ketika ada sesuatu yang baru, yang berbeda dari biasanya, maka hal itu akan menarik perhatian banyak orang. Dari situlah biasanya sukses itu datang. Tak bisa dimungkiri, sosok Jokowi yang sangat berbeda dari pimpinan kebanyakan membuat terlihat dan menonjol. Itulah yang membuat sukses memenangipilgub Jakarta.

Jadi ingin sukses, kita harus terlihat menonjol. ini berlaku dalam hal apapun juga. Jasa, layanan, produk, kualitas, dan semua bisnis kita harus terlihat menonjol. Perhatikan bintang-bintang dilangit. Bintang yang menarik perhatian adalah bintang yang pendar cahayanya lebih kuat dibandingkan dengan bintang-bintang yang lainnya. Jangan selalu mengartikan bahwa membuat diri terlihat menonjol berarti kita menjadi sombong. Tentu itu dua hal yang berbeda. Bukanya firman Tuhan sendiri berkata bahwa perbuatan baik kita harus terlihat? Yesus berkata."Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di Sorga."(Mat 5:16).

Diambil dari Renungan Harian Interdenominasi

Menabur Pikiran Baik

Menabur Pikiran Baik
Suatu kali seorang wanita masuk ke sebuah toko. Ia terkejut karena ternyata yang Tuhan adalah sang penjaga yang berdiri di belakang rak panjang. Ia ke situ dan berkata, "Apa yang Engkau jual?" Tuhan menjawab,"Apapun yang engkau inginkan." Senang dengan jawaban itu, wanita itu menyahut, Kalau begitu berikanlah saya kebahagiaan, ketenangan, damai sejahtera dan kebebasan dari kekhatiran." Namun Tuhan menjawab, " Maaf, Aku tidak menjual buah. Di sini hanya ada benih-benihnya."
Bila anda merasa lelah denga perasaan tidak bahagia, cemas, takut, atau menginginkan lebih banyak damai sejahtera dan tenteram, mulailah menabur pikiran benih pikiran yang baik. Inilah yang disebut dengan hukum tabur dan tuai. Benih yang ditabur hari ini akan menentukan buah yang akan dipetik esok harinya. Yang kita tanam dan biarkan tumbuh dalam pikiran akan menentukan siapa kita kelak.
Hal ini berarti kita harus menjaga hati dan pikiran serta mencabut semua hal negatif yang ada diddalamnya. Walaupun pelaksanaanya tidak mudah, Paulus mengigatkan supaya kita segera melakukannya sebelum hal-hal negatif tersebut mulai berakar (Ibr.12:15; 2 Kor. 10:4-5). Jagalah selalu agar pikiran kita tetap kudus, bersih, dan selaras dengan kebenaran firman-Nya. Firman Tuhan dalam Efesus 4:23 mengingatkan supaya kita mengijinkan Roh Kudus mengubah cara berpikir kita. Sebab sebagaimana dijelaskan dalam Roma 12:12, pembaharuan cara pikir (akal budi) merupakan langkah pertama perubahan diri secara menyeluruh. Jadi manakala kita mengizinkan Tuhan melakukannya, kita diubah dari dalam ke luar. "Akhirnya Saudara-saudara, isilah pikiranmu dengan hal-hal bernilai, yang patut dipuji, yaitu hal-hal yang benar, yang terhormat, yang adil, murni, manis dan baik. Jalankanlah apa yang kalian pelajari dan terima dari saya; baik dari kata-kata maupun dari perbuatan-perbuatan saya. Allah sumber sejahtera, akan menyertai kalian" (Flp. 4:8-9,BIS).
Jadi jika kita ingin mengubah diri, mulailah itu dengan mengubah pikiran kita terlebih dahulu. Sebab pikiran kita akan menjadi perkataan, perkataan menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan akhirnya karakter menjadi masa depan (nasib) kita.


Sumber: Renungan Pagi

Meraih Keberhasilan Bersama Yesus



Meraih Keberhasilan Bersama Yesus
“Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.” 2 Tawarikh 26:4-5
Uzia diangkat menjadi raja Yehuda pada saat berumur enam belas tahun. Dan ia memerintah selama lima puluh dua tahun lamanya di Yerusalem. Tuhan menyertai dia dan membuat segala usahanya menjadi berhasil. Lima puluh dua tahun bukan merupakan waktu yang sebentar. Pada waktu itu, tidak banyak orang yang bisa menjadi raja dan memerintah cukup lama. Tetapi Uzia melakukannya sejak ia masih muda.
Banyak orang yang merasa bahwa mereka tidak cukup pengalaman dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Mereka merasa tidak mempunyai cukup keahlian, pengetahuan, ketrampilan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan dan masih banyak lagi alasan.
Tidak sedikit juga yang menolak tugas-tugas baru yang diberikan kepada mereka, karena merasa tidak percaya diri dalam menjalankan tanggung jawab yang lebih besar.
Uzia menerima tanggung jawab yang besar pada usia yang masih belia. Tetapi dia tidak takut dan gentar dalam menerima dan menjalankan tugas baru tersebut. Dan kita dapat melihat bahwa dia berhasil memerintah dalam waktu yang cukup lama.
Apa yang menjadi kunci keberhasilan Uzia selama menjadi raja?

1. Melakukan apa yang benar di mata Tuhan

“Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN” 2 Tawarikh 26:4a
Uzia hanya perlu melakukan hal yang benar di mata Tuhan. Dia tidak melihat umurnya sebagai suatu kekurangan. Tetapi dia tetap fokus melakukan apa yang harus dilakukan, yaitu kebenaran. Dengan demikian, Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah hidupnya. Musuh-musuh dapat dikalahkan dengan mudah, bahkan mereka gentar terhadap Uzia.
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Yosua 1:8
Renungkanlah Firman Tuhan setiap hari, maka kita akan tahu apa yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan dan apa yang tidak berkenan di hadapanNya. Lakukanlah apa yang berkenan bagi Tuhan, maka Dia akan menyertai setiap langkah hidup kita.
Dia akan memberi kita hikmat, sehingga kita dapat mengambil keputusan yang tepat di saat-saat yang genting. Dia akan memberikan kita keberanian, sehingga kita dapat melangkah dengan iman untuk meraih keberhasilan. Dan Dia akan memberikan kita keberuntungan, sehingga kita dapat senantiasa berhasil dalam setiap tindakan kita.

2. Mencari Tuhan

“Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah.” 2 Tawarikh 26:5a
Uzia senantiasa mencari Tuhan pada masa pemerintahannya, dan dia belajar untuk takut akan Tuhan. Tuhan menjadi fokus hidupnya selama dia memerintah. Dia mengutamakan Tuhan dalam tiap langkahnya. Dia mengerti bahwa dengan mencari Tuhan, maka dia akan menemukan sumber dari segala hikmat yang pernah ada di muka bumi ini.
Uzia mendapatkan hikmat, kebijaksanaan dan pengetahuan yang dia perlukan untuk memerintah sebagai raja. Semuanya itu dia peroleh dengan cara mencari Tuhan.
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1:7
“untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan– untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.” Amsal 1:2-6
Kita mungkin tidak memiliki cukup pengetahuan, pengalaman dan kepandaian untuk melakukan suatu tanggung jawab yang besar yang ada di depan kita. Tetapi ketika kita rajin mencari wajah Tuhan, maka Tuhan akan memberikan hikmat dari segala hikmat yang membuat kita dapat menjalankan dan menyelesaikan pekerjaan yang besar.
Tiada yang mustahil bagi Tuhan, Dia akan bekerja di dalam hidup kita, sehingga kita akan sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar. Jangan takut atas apa yang sedang kita hadapi. Carilah wajah Tuhan, maka Dia akan memberikan keberhasilan bagi tiap langkah hidup kita.
Lakukanlah apa yang benar di mata Tuhan dan carilah Tuhan selama Ia masih berkenan ditemui. Maka kita akan melihat banyak pintu-pintu yang dibukakan bagi jalan kita. Kita akan melihat keberhasilan demi keberhasilan di dalam hidup kita. Apa yang kelihatannya mustahil bagi manusia, Tuhan akan membuat menjadi mungkin di dalam hidup kita. Raihlah keberhasilan bersama dengan Tuhan. Haleluya!
“Maka engkau akan berhasil, jika engkau melakukan dengan setia ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum yang diperintahkan TUHAN kepada Musa untuk orang Israel. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah tawar hati.” 1 Tawarikh 22:13

Sumber : http://www.pelitahidup.com

Kekuatan Untuk Terbang Tinggi Bagai Rajawali


“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40:31

Burung rajawali mempunyai sayap yang lebar. Bahkan yang terlebar yang pernah diukur adalah selebar 2,5 meter (8 feet). Burung rajawali dikenal dengan ketahanannya pada saat ia terbang. Walau diperlukan energi yang cukup besar untuk mengepakkan sayap pada awalnya, tetapi begitu dia terbang, dia hanya mengeluarkan energi yang sangat kecil.
Hasil penelitian menyatakan bahwa rajawali hanya memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk mengepakkan sayap dalam tiap jam waktu terbangnya. Rajawali dapat terbang lama tanpa perlu mengepakkan sayapnya.
Rajawali dapat terbang dengan melayang-layang di udara (gliding) ataupun terbang naik (soaring) dengan memanfaatkan udara thermal/panas yang naik pada daratan terbuka. Sedapat mungkin dia menggunakan kedua teknik itu untuk dapat terbang tanpa perlu mengepakkan sayapnya. Dengan begitu dia hanya memerlukan energi yang sangat kecil untuk dapat terbang lama. Tidak hanya itu saja, rajawali dapat menempuh jarak rata-rata 75 hingga 125 mil. Jarak terjauh yang pernah ditempuh adalah 1100 mil.
Itulah rahasia kekuatan dari burung rajawali yang naik terbang tinggi. Dia tidak akan pernah menjadi lelah karena dia tidak perlu menggunakan banyak energi untuk dapat terbang dalam waktu lama dan menempuh jarak yang jauh.
“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40:29-31
Ketika kita berada dalam suatu masalah yang datang bertubi-tubi, kita dapat merasakan menurunnya kekuatan kita baik secara fisik maupun secara jiwa. Melemahnya kekuatan kita justru akan membuat kita semakin tidak berdaya dalam menghadapi masalah yang ada.
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita kunci untuk mendapat kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah. Kuncinya adalah dengan menanti-nantikan Tuhan.
Menanti-nantikan Tuhan berarti bahwa kita terus berharap kepada Tuhan, mengarahkan mata hati kita kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, taat kepada perintah-perintahNya dan tetap memegang teguh iman pengharapan kita kepada Kristus.
Dengan menjaga persekutuan kita dengan Tuhan, kita akan berada dalam kondisi yang senantiasa menanti-nantikan Tuhan. Masalah yang ada tidak boleh menghalangi kita untuk tetap datang beribadah kepadaNya. Kita harus tetap mengiring Yesus apapun yang sedang terjadi.
Ketika kita melepaskan pengharapan kita kepada Yesus, maka kita akan semakin kehilangan kekuatan untuk dapat berjalan maju. Kekuatan fisik dan pikiran yang kita miliki tidaklah cukup untuk menghadapi semua beban, karena kita memiliki batas dalam kemampuan kita.
Rajawali tahu bahwa dia tidak perlu susah payah mengepakkan sayapnya terus-menerus. Dia hanya akan membuang-buang energinya ketika dia mengepakkan sayapnya terus-menerus. Tetapi dia menggunakan teknik melayang (gliding) dan naik (soaring) dengan memanfaatkan udara thermal.
Ketika kita datang pada Yesus dan senantiasa menanti-nantikan Dia, maka kita akan mendapatkan kekuatan yang baru. Kekuatan baru yang Tuhan berikan akan memampukan kita untuk bangkit berdiri menjalani apa yang ada di depan kita. Tuhan akan memberikan semangat baru, hikmat yang baru, sukacita yang baru, pengharapan yang selalu baru, agar kita dapat berdiri tegak dalam menjalani hidup ini.
Bagai rajawali yang tidak pernah lelah pada saat dia terbang, demikian juga halnya dengan kita yang menanti-nantikan Tuhan. Kita tidak akan pernah merasa lelah oleh karena Tuhan telah memberikan kita kekuatan yang baru. Kita dapat menghadapi masalah seberat apapun. Kita dapat keluar dari berbagai problema. Kita dapat menjalani kesusahan-kesusahan yang ada. Kita bahkan tidak menyadari bahwa begitu banyak hal ajaib yang telah kita lalui, oleh karena Tuhan telah memberikan kekuatan bagi kita untuk melalui semuanya itu.
Marilah kita tetap menanti-nantikan Tuhan, marilah kita tetap menjaga persekutuan kita dengan Tuhan, marilah kita datang kembali kepada Tuhan. TanganNya senantiasa terbuka bagi kita yang datang kepadaNya. Dia akan memberi kekuatan baru bagi kita. Haleluya!
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Matius 11:28-30

Sumber : Pelita Hidup

3 Rahasia Untuk Menjadi Pasangan Yang Harmonis



3 Rahasia Untuk Menjadi Pasangan Yang Harmonis


“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” 1 Petrus 3:8-9

Banyak hal yang diidam-idamkan calon pengantin atas apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka suatu saat. Banyak calon pasangan yang merasa yakin bahwa mereka pasti dapat mengatasi segala masalah yang akan datang menerpa pernikahan mereka. Mereka merasa yakin bahwa mereka telah mengenal satu sama lain dan bahkan sudah tahu keburukan masing-masing. Sehingga mereka yakin akan dapat mengatasi masalah apapun yang akan datang menerpa rumah tangganya.
Tetapi memimpikan pernikahan dan menjalani pernikahan adalah dua hal yang sangat berbeda. Hidup bersama dengan orang yang mempunyai latar belakang berbeda akan memunculkan masalah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Masalah sekecil apapun dapat menjadi masalah besar. Masalah tersebut dapat muncul dari kebiasaan yang berbeda antar pasangan, mulai dari cara menyimpan baju, cara menaruh handuk, cara menggosok gigi, cara mendidik anak, hingga masalah yang lebih rumit lagi seperti masalah keuangan dan lain sebagainya.
Tidak ada yang pernah tahu masalah apa yang akan muncul ketika kita menjalani suatu pernikahan. Semuanya akan terjadi dengan begitu saja tanpa pernah kita sadari.
Tidak sedikit pernikahan yang gagal karena mereka tidak menemukan jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi. Pada akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk berpisah, karena sudah tidak ada lagi kecocokan.
Keputusan untuk berpisah/bercerai tentunya bertentangan dengan Firman Tuhan. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia.
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Matius 19:6
Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 32.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:
Lalu bagaimana caranya agar pernikahan dapat berlanjut hingga ajal memisahkan? Bagaimana caranya agar masalah-masalah yang timbul dapat diselesaikan dengan baik? Bagaimana agar pertengkaran dapat dikurangi atau bahkan dihindarkan?
Firman Tuhan mengajarkan tiga rahasia utama bagi pernikahan agar dapat harmonis dan bertahan dalam menghadapi berbagai masalah:

1. Isteri tunduk kepada suami

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” 1 Petrus 3:1-2
Isteri harus mengerti posisinya dalam pernikahan. Sebagaimana jemaat yang tunduk kepada Kristus, yang adalah kepala, maka isteri harus tunduk kepada suami yang merupakan kepala rumah tangga. Posisi ini tidak boleh dibalik, karena tidak mungkin Kristus tunduk kepada jemaat. Oleh karena itu Firman Tuhan dengan tegas mengatakan agar isteri tunduk kepada suaminya.
Bagi yang memiliki suami yang takut akan Tuhan, tentunya menerapkan hal ini tidak seberat jika suaminya belum mengenal Tuhan. Tetapi dalam kondisi apapun sang suami, entah dia bersikap baik ataupun buruk, isteri harus tetap belajar untuk tunduk kepada suaminya.
Sikap suami yang buruk tidak perlu dilawan dengan emosi, karena hal ini tidak akan menyelesaikan masalah. Masalah justru akan bertambah runcing jika dihadapi dengan emosi.
Sikap sabar dan lemah-lembut harus dipraktekkan oleh isteri dalam menghadapi sikap suami yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dengan sikap lemah-lembut inilah Roh Tuhan akan bekerja menjamah hati suami. Tidak ada cara yang paling ampuh selain cara Tuhan dalam memenangkan hati suami.
Sudah cukup banyak kesaksian yang menyatakan bahwa para suami akhirnya berubah total setelah melihat isteri mereka bersikap sabar dan lemah lembut dalam menghadapi kekasaran mereka. Banyak suami yang diubahkan ketika isteri mempraktekkan Firman Tuhan ini.

2. Suami menghormati isteri

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” 1 Petrus 3:7
Menjadi suami bukan suatu tugas yang mudah. Suami harus dapat menjadi kepala bagi pernikahan/rumah tangga-nya. Suami harus dapat menjadi pimpinan bagi keluarganya dan memberi teladan yang baik bagi anggota keluarganya.
Tetapi seringkali tanggung jawab yang besar ini sering membuat suami meremehkan isterinya. Suami sering beranggapan bahwa pendapatnya-lah yang benar dan tidak pernah mempedulikan pendapat isterinya. Sikap seperti ini dapat melukai hati sang isteri. Selain itu juga dapat menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga.
Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi pendamping manusia pertama yaitu Adam, Tuhan mengambil tulang rusuknya Adam. Tuhan menciptakan penolong yang sepadan, bukan lebih rendah martabatnya.
“TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” ” Kejadian 2:18
Suami harus mengerti bahwa jika Tuhan telah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan, maka Tuhan telah menjadikan mereka satu dan bukan dua lagi. Oleh karena itu suami harus menghormati isterinya sendiri sebagaimana dia menghormati dirinya sendiri.
Suami harus belajar mendengar dan menghargai pendapat isterinya. Suami yang mau menghormati isterinya dengan cara demikian akan mendapati bahwa Tuhan berkenan atas rumah tangga mereka. Tuhan akan memberi keharmonisan bagi pernikahan mereka.

3. Bersehati

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” 1 Petrus 3:8-9
Kesehatian adalah kunci utama bagi rumah tangga agar dapat diberkati oleh Tuhan. Saat isteri sudah tunduk kepada suami dan suaminya menghormati isterinya sebagai pasangannya yang sepadan, maka mereka harus selalu sepakat dalam keadaan apapun yang mereka hadapi.
Begitu banyak masalah yang membuat suami dan isteri harus mengambil keputusan. Tidak jarang pula ada perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan. Apapun yang menjadi keputusan akhir, suami dan isteri harus sama-sama sepakat di dalamnya. Jika salah satu tidak mendukung keputusan yang diambil, maka hal itu merupakan awal terjadinya masalah yang lebih besar lagi.
Dukunglah pasangan masing-masing. Tidak ada ruginya jika salah satu mau mengalah. Justru di saat ada kesehatian, Tuhan akan memberkati rumah tangga kita. Haleluya!
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” Efesus 5:22-30


Sumber : PelitaHidup.com

Trending Topic

http://wighan.blogspot.com/atom.xml